Incoming search terms for the article:

Kualitas Ibadah

Kualitas ibadah dan perbuatan baik seseorang juga sangat tergantung pada apa yang ada di hatinya. Sejauh yang saya amati selama ini, ada tiga paradigma orang dalam melakukan ibadah. Marilah kita coba kupas paradigma-paradigma tersebut

Paradigma 1 : Perasaan Takut
Orang yang menganut paradigma ini, dalam beribadah semata-mata supaya ia tidak masuk neraka. Inilah tingkatan paling rendah dalam beribadah. Agama sendiri sering di sosialisasikan dengan menggunakan pendekatan ini. Orang-orang yang tidak menjalankan kewajiban agama, di ancam akan di hukum masuk neraka. Coba amati apa yang terjadi dengan diri kita sendiri. Bukankah banyak di antara perbuatan kita yang –setelah di renungkan dalam-dalam – bersumber dari rasa takut?. Kita tidak datang terlambat karena takut dimarahi atasan atau tidak korupsi karena takut ketahuan.

Paradigma 2 : Perhitungan Untung Rugi
Alasan kedua mengapa orang melakukan ibadah adalah keinginan untuk menerima reward yaitu masuk surga. Orang yang menganut paradigma untung rugi ini, seringkali berperilaku layaknya seorang pedagang. Dalam beribadah ia sangat concern pada pahala yang akan ia terima. Bahkan mungkin ia akan menghitung –hitung pahalanya terlebih dahulu. Ia memilih shalat berjamaah karena ganjarannya mencapai 27 kali. Ia beribadah lebih banyak di bulan Ramadhan karena pahala yang di dapat berlipat ganda (70 kali bahkan 700 kali). Ia “begadang” di 10 malam terakhir Ramadhan untuk mendapatkan “Lailatul Qadar” yang lebih baik dari 1000 bulan.
Orang yang beribadah karena mengharap ganjaran ini menurut saya telah kehilangan makna ibadah itu sendiri. Beribadah sesungguhnya adalah untuk kebaikan kita, karena Allah sama sekali tidak di untungkan apakah kita beribadah atau tidak. Mengapa kita bermain untung rugi dengan Allah? Bukankah dalam memberikan nikmat-Nya Allah tidak pernah memperhitungkan apakah kita percaya atau tidak?.

Paradigma 3 : Perasaan Cinta
Bagi saya inilah paradigma tertinggi dalam beribadah. Orang yang menganut paradigma ini tidaklah terlalu peduli dengan ganjaran yang akan di terima. Bagi mereka, kenikmatan utama justru di dapatkan dari melakukan perbuatan itu sendiri.
Mengerjakan sholat bukanlah karena takut masuk neraka atau ingin mendapatkan surga. Akan tetapi mengerjakan sholat karena sholat itu mendatangkan kenikmatan yang luar biasa besar. Sholat adalah sebuah kegiatan yang sungguh menyegarkan. Dengan sholat kita bisa memulihkan energy dan akan mengingatkan kita “kemana kita akan pergi?”.
Namun yang lebih dari itu semua adalah kenikmatan tertinggi yang kita rasakan saat kita “berjumpa” dan berdialog dengan-Nya. Sholat merupakan perlambang dari pertemuan dengan kekasih kita Allah SWT. Dalam pertemuan semacam itu perhitungan untung rugi menjadi tidak penting. Inilah yang di sebut cinta. Dalam cinta, orang tidak memperhitungkan apakah yang akan ia berikan seimbang dengan apa yang akan di terima. Bahkan dalam cinta, memberi mengandung kenikmatan yang luar biasa.

Incoming search terms for the article:

You can leave a response, or trackback from your own site.
DeliciousFacebookDigg
RSS FeedStumbleUponTwitter

Leave a Reply