Merenungkan Makna Kepemilikan VS Stop Dreaming Start Action

Pemahaman arti pentingnya  Stop Dreaming Start Action bagi kehidupan melalui analogi cerita pengalaman masa kecil di kampung.

Sewaktu kecil, guru saya sering mendongeng tentang kehebatan Nabi Sulaiman yang mampu berbicara dengan hewan dan tumbuhan. Setiap Nabi Sulaiman masuk kebun, tutur pak guru, pepohonan pada mengucapkan salam dan memperkenalkan diri. “Nabi Sulaiman, saya pohon apel. Lihat di tubuhku bergelantungan buah apel yang manis-manis. Saya sangat gembira kalau Nabi Sulaiman sudi memetik dan memakannya, atau di bagikan kepada teman dan keluarga. Aku di ciptakan Allah untuk melayani manusia”. Demikian kata pohon apel. Begitu juga dengan pohon-pohon yang lain.

Cerita tadi begitu membekas di hati saya. Bahwa manusia merupakan puncak ciptaan Allah. Dan alam semesta ini di tundukkan untuknya sehingga manusia di beri gelar khalifatullah atau mandataris Allah di muka bumi. Hanya saja perlu di ingat, bahwa sebagai seorang mandataris harus sejalan dengan yang member mandate. Tidak boleh menghianati, tidak boleh keluar dari pedoman pokok yang di gariskan oleh Allah.

Pepohonan tadi merasa dirinya berharga dan telah melaksanakan tugas dengan baik justru di saat bisa memberikan prestasi puncaknya pada orang lain. Sikap dan orientasi member serta melayani (giving and serving oriented) merupakan sumber kebahagiaan dan puncak prestasi kehidupan. Begitu juga dengan kehidupan manusia. Orang tua merasa sukses ketika bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Kehidupan manusia seharusnya meniru kehidupan dunia tumbuh-tumbuhan. Bahwa sesungguhnya apapun yang kita miliki belum punya makna kalau belum mendatangkan manfaat bagi orang lain untuk sama-sama menegakkan kalimah Allah.

Seperti kita ketahui bahwa dengan semakin majunya jaman, terjadi pergeseran norma-norma dalam masyarakat. Dimana sering kita dengar selama ini apabila kita melakukan sesuatu harus berdasarkan win win solution ataupun berdasarkan take and give. Akan tetapi kondisi sekarang menuntut lebih dari itu. Kita harus memberi apa yang kita bisa atau apa yang kita punya terlebih dahulu baru berharap menuai kebaikan yang pernah kita lakukan. Seperti yang di lakukan oleh pohon apel di atas. Artinya, kita harus Stop Dreaming mengharapkan durian runtuh atau belas kasihan orang lain ataupun bergantung kepada nasib. Akan tetapi kita harus segera Start Action untuk berkarya. Prinsip Stop Dreaming Strat Action harus di tanamkan mulai sekarang agar dapat mencapai apa yang kita inginkan. Lebih baik melangkah walaupun setahap demi satahap dari pada tidak melangkah sama sekali.

Sebagai ilustrasi, suatu hari ada seorang Ayah bertanya pada anaknya. “Kalau di tangan saya ada uang Rp.10 ribu, lalu saya sedekahkan Rp.4 ribu, berapa sisa uang Ayah?”. Anaknya menjawab, “Masih Rp. 6 ribu,” kata anaknya. “Salah” sahut sang Ayah. Yang benar uang Ayah masih Rp. 4 ribu, karena apa yang saya sedekahkan itulah yang sudah pasti tercatat sebagai amal shaleh. Sedangkan sisanya masih belum pasti. Demikianlah, dialog diatas memberikan pelajaran sangat berharga. Bahwa apa yang kita miliki adalah apa yang sudah kita belanjakan di jalan kebaikan. Bukannya apa atau berapa yang kita simpan.

Dari ilustrasi di atas makin jelas pentingnya Stop Dreaming Start Action. Jangan cuma bermimpi untuk mendapatkan nikmat dari Allah tanpa kita melakukan kebaikan. Nah, Tentukan Target Anda Sekarang seperti yang di ulas dalam artikel kawan kita Joko Susilo yang sudah terbukti menuai hasil dari apa yang sudah di berikan untuk orang lain.

Rasullullah mengajarkan agar seseorang ketika meninggal hendaknya mewariskan :

  • Ilmu yang bermanfaat bagi kemanusiaan.
  • Harta kekayaan yang di belanjakan untuk kesejahteraan umat.
  • Anak yang shaleh.

Ketiga warisan itulah yang membuat seseorang kaya, sekalipun orang tersebut sudah meninggal. Kaya disini artinya produktivitas dan kemakmuran yang tetap memberikan pahala atau deviden kebajikan sekalipun seseorang telah dinyatakan almarhum.

Sekali lagi tanamkan prinsip Stop Dreaming Start Action mulai dari sekarang.

You can leave a response, or trackback from your own site.
DeliciousFacebookDigg
RSS FeedStumbleUponTwitter

Leave a Reply