<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kolomonggo &#124; Web &#187; Kesehatan</title>
	<atom:link href="http://kolomonggo.com/category/kesehatan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kolomonggo.com</link>
	<description>Mengulas Apa yang Dilihat, Didengar dan Dirasakan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Dec 2011 07:42:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bagi yang Suka Masakan Padang and Pecel perlu waspada nih</title>
		<link>http://kolomonggo.com/kesehatan/bagi-yang-suka-masakan-padang-and-pecel-perlu-waspada-nih.html</link>
		<comments>http://kolomonggo.com/kesehatan/bagi-yang-suka-masakan-padang-and-pecel-perlu-waspada-nih.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 07:41:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iwan Bagus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[nasi padang]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomonggo.com/kesehatan/bagi-yang-suka-masakan-padang-and-pecel-perlu-waspada-nih.htm</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh menggiurkan bilamana melihat sajian sayur singkong hijau dengan paduan  kuah kari dan sambal hijau dalam seporsi nasi Padang saat rehat makan siang.  Selain sedap, kata mama, sayur juga mengandung vitamin dan mineral yang  melimpah. Keduanya sangat dibutuhkan guna memperlancar metabolisme tubuh kita,  imbuh guru Biologi kita  dahulu.
Semuanya memang tidak salah. Akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Sungguh menggiurkan bilamana melihat sajian sayur singkong hijau dengan paduan  kuah kari dan sambal hijau dalam seporsi nasi Padang saat rehat makan siang.  Selain sedap, kata mama, sayur juga mengandung vitamin dan mineral yang  melimpah. Keduanya sangat dibutuhkan guna memperlancar metabolisme tubuh kita,  imbuh guru Biologi kita  dahulu.<br />
Semuanya memang tidak salah. Akan tetapi, bila sayur  yang katanya sarat zat-zat yang esensial bagi tubuh itu terkontaminasi dengan  bahan-bahan kimia yang berbahaya, apa yang terjadi? Bukan sehat yang didapat,  malah sebaliknya, penyakit menyerang, atau mungkin pada gilirannya nanti,l  kematian menjemput. Tentu kita semua tidak mau, kan? Maka dari itu kita semua  harus mulai  berhati-hati.</div>
<p><span style="color: #bf005f; font-size: medium;">Bleng atau  Borax</span></p>
<p>Setelah ditemukannya daging ayam dan sapi yang mengandung Borax beberapa  waktu lalu,   ternyata, menurut penelusuran tim Benang Merah, Global TV, sayuran  hijau, kini juga telah turut dijamah bahan kimia berbahaya ini. Guna menyamarkan  identitas aslinya, Borax dilepas ke pasaran dengan label bleng (baca dengan  lafal e sama dengan yang ada pada kata Bleng alias Borax ini umumnya digunakan  untuk mempercepat empuknya sayur mayur yang dimasak sekaligus memberikan aroma  sedap, serta mempertahankan warna hijau dari sayur lebih lama. Konsumer utama  Borax ini, berdasarkan penulusuran dan wawancara yang dilakukan oleh tim Benang  Merah, ialah para pengelola rumah makan  Padang.</p>
<p>Tidak ada rumah makan Padang  yang tidak menggunakan bleng,¡± aku salah seorang pemilik rumah makan Padang  yang disamarkan identitasnya. Daun singkong dalam menu masakan Padang sifatnya  wajib ada. Namun, setelah dimasak, rupanya daun singkong ini cepat berubah warna  menjadi kehitaman.</p>
<div>Sebab itu, bleng menjadi solusi ampuh mengatasi masalah sayur singkong yang  cepat menghitam ini. Menurut mereka, saat memakai bleng, daun singkong lebih  cepat masak, juga tahan lebih lama.Masalahnya, mereka, para pedagang dan pemilik  rumah makan ini, tidak tahu menahu bahwa bleng adalah nama lain Borax.</div>
<div>Mereka  menganggap, dengan nama yang tidak identik, maka kandungannya pun jauh berbeda.  Padahal, bleng merupakan cap yang tak lain hanya nama lain dari Borax. Di  samping itu, sosialisasi yang dilakukan Badan POM masih amat minim. Akibatnya  bleng a.k.a Borax ini masih bisa beredar bebas di pasaran tanpa ada  inspeksi maupun penanganan lebih lanjut.</div>
<div>
<p><span style="color: #bf005f; font-size: medium;">Bahayanya?</span></p>
<p>Bleng atau Borax, merujuk  pada pernyataan Ilyani S. Andang, seorang peneliti YLKI, sudah tidak  diperkenankan, bahkan dilarang, digunakan sebagai bahan tambahan makanan. Zat  ini diduga mempunyai sifat  racun.</p>
<p>Efek Borax memang tidak tampak secara instan, melainkan akumulatif. Pada  fase awal, Borax dapat menimbulkan gangguan pencernaan, pusing, atau mual.  Namun, bila sudah mencapai tahapan akut, Borax dapat memicu kanker, juga bahkan  kematian, tuturnya saat diwawancarai tim Benang Merah.</p>
<p>Wikipedia pun  melansir data yang serupa. Disebutkan, kendati Borax bukan benar-benar  racun,  bukan berarti penggunaannya, juga termasuk di dalamnya, konsumsi, aman.  Dalam  terpaan sederhana, Borax mampu menimbulkan iritasi kulit dan pernafasan.  Konsumsi Borax juga mampu memicu rasa mual, muntah-muntah, sakit perut akut, dan  diarrhea (mencret).</p></div>
<div>Pada konsumsi lanjut, seseorang bisa terkena respiratory depression  (chan-gangguan pernapasan berat), erythematous, juga gagal ginjal.Karena itulah,  masyarakat perlu berhati-hati. Apalagi mendeteksi keberadaan Borax di sayur agak  susah. Selain itu, masyarakat umum masih berpikir, sayur yang masih  hijau setelah dimasak ialah sayur yang kandungan vitamin dan mineralnya masih  banyak, tidak hilang bersama air rebusan atau sebagainya. Tetapi, pada  kenyataannya tidak selalu begitu. Maka dari itu, mulai sekarang kita harus mulai  waspada!</p>
<p><strong>Tak  hanya masakan  Padang</strong></p>
<p>Temuan  penggunaan Borax pada pengolahan sayur ternyata tidak hanya ada di rumah  makan Padang. Penjual sayur pecel keliling, juga mengaku menggunakan bleng alias  Borax ini  sebagai bahan tambahan saat masak.</p></div>
<div>Saya  pakai bleng saat merebus kecambah, kacang panjang, kangkung, bayam, juga sayur  lain yang menjadi bahan dasar pecel.¡± Begitu ungkap salah seorang wanita  penjual pecel keliling di Jakarta.</div>
<div>
<p>Alasannya memakai bleng serupa dengan yang diutarakan pemilik rumah makan  Padang di atas. Akunya, sayur yang direbus lebih cepat matang dan tahan lebih  lama dibanding tanpa menggunakan bleng. Yang lebih menariknya menggunakan bleng  adalah karena harganya murah dan tersedia banyak di pasaran.</p>
<p><strong>Selamatkan kami yang tidak  tahu!</strong></p>
<p>Melihat  kenyataan tersebut, kita patut bersedih. Pasalnya, kita tahu semua,  Indonesia memiliki Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) yang bertugas  mengawasi obat-obatan serta makanan yang beredar luas di Indonesia. Akan tetapi,  sepertinya, untuk kasus di atas, peranan badan ini tak begitu kentara.</p>
<p>Badan POM kelihatannya  tidak akan bertindak sampai kasus ini diangkat media dan menjadi bahan  pembicaraan khalayak ramai. Baru, jika sampai tahap ini, Badan POM mulai  beraksi.  Seharusnya, sebagai badan yang diberi kewenangan untuk menjaga serta  mengawasi obat dan makanan di Indonesia, Badan POM lebih proaktif. Bukan hanya  menunggu sampai ada yang meninggal, lalu masuk berita televisi, baru mereka mau  bergerak. Inspeksi plus sosialisasi harus lebih gencar dilakukan Badan ini,  supaya tak ada lagi bahan kimia berbahaya yang beredar dan menghantui masyarakat  Indonesia dengan rasa was-was pada setiap makanan yang mereka makan  sehari-hari.</p>
<p>Bila memang Badan POM masih belum bisa proaktif, media, sebagai pihak  yang punya kuasa mengatur agenda publik, hendaknya terus memuat  reportase-reportase maupun kasus berkenaan dengan penggunaan Borax dalam  makanan. Selain agar masyarakat tahu dan awas,  Badan POM juga diharapkan  tersentil menyaksikan berbagai berita yang ditayangkan media.  Ini semua demi  menyelamatkan konsumen, yang tak lain ialah seluruh bangsa Indonesia<br />
sendiri.</p>
<p>Di samping dua hal tersebut, secara  lebih ilmiah, Borax dapat diganti dengan STPP, karena selain aman, STPP juga  berizin sebagai bahan tambahan makanan di Indonesia.</p></div>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/bagi-yang-suka-masakan-padang-and-pecel-perlu-waspada-nih.html" title="bleng pada daun singkong">bleng pada daun singkong</a> (3)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/bagi-yang-suka-masakan-padang-and-pecel-perlu-waspada-nih.html" title="kasus penggunaan boraks pada makanan">kasus penggunaan boraks pada makanan</a> (3)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/bagi-yang-suka-masakan-padang-and-pecel-perlu-waspada-nih.html" title="suka masak">suka masak</a> (2)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/bagi-yang-suka-masakan-padang-and-pecel-perlu-waspada-nih.html" title="bahan pecal padang">bahan pecal padang</a> (2)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/bagi-yang-suka-masakan-padang-and-pecel-perlu-waspada-nih.html" title="efek pecel bagi kulit">efek pecel bagi kulit</a> (2)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/bagi-yang-suka-masakan-padang-and-pecel-perlu-waspada-nih.html" title="bleng untuk makanan">bleng untuk makanan</a> (2)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/bagi-yang-suka-masakan-padang-and-pecel-perlu-waspada-nih.html" title="Masakan pecel ala padang">Masakan pecel ala padang</a> (1)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/bagi-yang-suka-masakan-padang-and-pecel-perlu-waspada-nih.html" title="masakan padang menggunakan bleng">masakan padang menggunakan bleng</a> (1)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/bagi-yang-suka-masakan-padang-and-pecel-perlu-waspada-nih.html" title="bagi yang suka makanan padang">bagi yang suka makanan padang</a> (1)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/bagi-yang-suka-masakan-padang-and-pecel-perlu-waspada-nih.html" title="Masak Pecal padang">Masak Pecal padang</a> (1)</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.669 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomonggo.com/kesehatan/bagi-yang-suka-masakan-padang-and-pecel-perlu-waspada-nih.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Fast Food Berbahaya?</title>
		<link>http://kolomonggo.com/kesehatan/apakah-fast-food-berbahaya.html</link>
		<comments>http://kolomonggo.com/kesehatan/apakah-fast-food-berbahaya.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2009 12:15:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kolomonggo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Fast Food]]></category>
		<category><![CDATA[kerugian fast food]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomonggo.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu gaya hidup masyarakat modern adalah mencari segala sesuatu yang praktis dan cepat. Termasuk dalam hal memilih makanan. Tidak heran bila sebagian besar orang kota begitu menyukai makanan cepat saji seperti fastfood. Selain cepat untuk disantap, fastfood relative murah dan rasanya beragam. Hidangan fastfood antara lain seperti Hot dogs, Seafood, Pizza, Salad dan Roasted [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Salah satu gaya hidup masyarakat modern adalah mencari segala sesuatu yang praktis dan cepat. Termasuk dalam hal memilih makanan. Tidak heran bila sebagian besar orang kota begitu menyukai makanan cepat saji seperti fastfood. Selain cepat untuk disantap, fastfood relative murah dan rasanya beragam. Hidangan fastfood antara lain seperti Hot dogs, Seafood, Pizza, Salad dan Roasted chicken.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Selain jenis makanan yang memiliki beraneka macam rasa, tempat makan juga menarik. Bahkan beberapa restoran fastfood di disain sedemikian rupa agar menjadi tempat berkumpul keluarga. Beberapa di antaranya di sediakan arena bermain anak untuk menambah daya tarik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Sehatkah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Banyak perdebatan tentang kesehatan berkaitan dengan konsumsi fastfood. Karena dari hasil penelitian menunjukkan<span> </span>bahwa banyak gangguan kesehatan muncul akibat <span> </span>karena terlalu banyak mengkonsumsi fastfood.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Jika dilihat dari kandungan nutrisinya, makanan jenis fastfood memiliki kadar garam, kalori, lemak dan kolesterol yang tinggi. Bahkan makanan ini sangat minim seratnya. Makanan yang tinggi kalori nya dapat menyebabkan obesitas. Konsumsi tinggi lemak beresiko terkena sakit jantung , stroke, diabetes serta kanker terutama kanker payudara dan kanker usus besar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kadar garam dalam makanan memang bermanfaat untuk menggantikan jumlah gizi yang di keluarkan tubuh bersamaan dengan keringan, tinja dan air kencing. Namun apabila konsumsi garam terlalu banyak, ternyata dapat menyebabkan penyakit darah tinggi. Makanan yang kekurangan serat dapat menggangu fungsi pencernaan. Jika di lihat dari sisi kesehatan, seseorang yang terlalu banyak mengkonsumsi makanan fastfood beresiko tinggi terkena penyakit yang di sebutkan diatas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Bagaimana cara men siasati?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Bagi yang suka fastfood harus mengimbangi dengan pola makan lain yang sehat. Misalnya dengan memperbanyak sayuran dan buah-buahan untuk mengganti kadar serat yang minim. Makanan berserat juga terbukti menurunkan kadar kolesterol dan gula darah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Agar tetap sehat, fastfood janagn di jadikan sebagai kebiasaan rutin. Dan untuk menurunkan kelebihan kalori, harus diimbangi dengan olah raga. Merubah pola hidup dengan kebiasaan menjaga kesehatan sedini mungkin adalah cara bijaksana untuk tetap prima di usia lanjut.</span></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/apakah-fast-food-berbahaya.html" title="kerugian fast food">kerugian fast food</a> (25)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/apakah-fast-food-berbahaya.html" title="kerugian dari makanan cepat saji">kerugian dari makanan cepat saji</a> (6)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/apakah-fast-food-berbahaya.html" title="akibat mengkonsumsi fast food">akibat mengkonsumsi fast food</a> (5)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/apakah-fast-food-berbahaya.html" title="kerugian mengkonsumsi makanan cepat saji">kerugian mengkonsumsi makanan cepat saji</a> (5)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/apakah-fast-food-berbahaya.html" title="efek mengkonsumsi fast food">efek mengkonsumsi fast food</a> (4)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/apakah-fast-food-berbahaya.html" title="komposisi fast food">komposisi fast food</a> (4)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/apakah-fast-food-berbahaya.html" title="kerugian mengkonsumsi fast food">kerugian mengkonsumsi fast food</a> (4)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/apakah-fast-food-berbahaya.html" title="kerugian makanan fast food">kerugian makanan fast food</a> (3)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/apakah-fast-food-berbahaya.html" title="fast food berbahaya">fast food berbahaya</a> (3)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/apakah-fast-food-berbahaya.html" title="kerugian makanan cepat saji">kerugian makanan cepat saji</a> (2)</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.285 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomonggo.com/kesehatan/apakah-fast-food-berbahaya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanaman Keladi Tikus untuk Kanker</title>
		<link>http://kolomonggo.com/kesehatan/tanaman-keladi-tikus-untuk-kanker.html</link>
		<comments>http://kolomonggo.com/kesehatan/tanaman-keladi-tikus-untuk-kanker.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 09:42:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kolomonggo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Keladi Tikus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomonggo.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Kebetulan saya mendapat artikel ini dari sebuah milis. Mudah-mudahan bisa bermanfaat.
Kanker semoga tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman &#8220;KELADI TIKUS&#8221; (Typhonium Flagelliforme/ Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit berat lain.
Tanaman sejenis talas dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-27" title="NewsImage.ashx" src="http://kolomonggo.com/wp-content/uploads/2009/07/NewsImage.ashx-150x150.jpg" alt="NewsImage.ashx" width="150" height="150" />Kebetulan saya mendapat artikel ini dari sebuah milis. Mudah-mudahan bisa bermanfaat.</p>
<p>Kanker semoga tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman &#8220;KELADI TIKUS&#8221; (Typhonium Flagelliforme/ Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit berat lain.</p>
<p>Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini hanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. &#8220;Tanaman ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa,&#8221; kata Drs.Patoppoi Pasau, orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia.</p>
<p>Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia. Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan pasien dari Malaysia, Amerika, Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura, dan berbagai negara di dunia.</p>
<p>Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan, Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut.</p>
<p>&#8220;Sebelum menjalani kemoterapi,dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan,&#8221; jelas Patoppoi.</p>
<p>Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker. &#8220;Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh tersebut,&#8221; ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah took obat di Malaysia, secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996.</p>
<p>Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia. Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu.</p>
<p>Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat Departemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, mereka menemukan tanaman itu di sana. Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu.</p>
<p>Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. &#8220;Dr Teo mengatakan agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat,&#8221; lanjut Patoppoi. Akhirnya, dengan tekad bulat dan do&#8217;a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku tersebut untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi putranya, Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan tanaman tersebut.</p>
<p>Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. &#8220;Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta,&#8221; kata Patoppoi. Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada isterinya. &#8220;Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan dosis kemoterapi kepada kami,&#8221; lanjut Patoppoi.</p>
<p>Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan agar mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. Dan<br />
pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan sekali. Tetapi karena sesuatu hal, para dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternative.</p>
<p>Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr.Teo melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di Indonesia. Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh,&#8221; sambung Patoppoi.</p>
<p>Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos,Patoppoi sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala, penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. &#8220;Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos,&#8221; ujar Boni.</p>
<p>Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. &#8220;Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang yang datang ke sini,&#8221; lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani, Buduran Sidoarjo.</p>
<p>Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi. Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos. Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien tersebut datang lag dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi, karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.</p>
<p>Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya. Maka secara resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial Cancer Care Indonesia, yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care, yaitu di Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta, telp. 021-4894745, dan di Buduran, Sidoarjo.</p>
<p>Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker payudara, paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leher rahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan hepatitis. Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaran Ringgit Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan.</p>
<p>Bagi teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan dengan artikel &#8220;Obat Kanker&#8221; bisa menghubungi perwakilan lembaga social &#8220;Cancer Care Indonesia&#8221; beralamat di Jl. Kayu Putih 4 no.5 Jakarta, telp : 021-4894745</p>
<p>Semoga pengobatan dengan tanaman obat dapat bermanfaat bagi para penderita kanker. Saya sendiri tidak tahu persis dari kebenaran informasi ini, bagi yang sudah pernah mencoba ataupun ingin mengechek informasinya silahkan saja menghubungi nomor di atas.</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/tanaman-keladi-tikus-untuk-kanker.html" title="patoppoi cacare">patoppoi cacare</a> (1)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/tanaman-keladi-tikus-untuk-kanker.html" title="tanaman keladi">tanaman keladi</a> (1)</li><li><a href="http://kolomonggo.com/kesehatan/tanaman-keladi-tikus-untuk-kanker.html" title="tumbuhan keladi tikus dimalaysia">tumbuhan keladi tikus dimalaysia</a> (1)</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.611 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomonggo.com/kesehatan/tanaman-keladi-tikus-untuk-kanker.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
